KOMPASS INDONESIA

KOMPASS INDONESIA
Berdiri sejak Tahun 1998 , SIUPP No.782/SK/MENPEN/SIUPP/1998 .Oleh Ir.Suryanto.

Advertise Here

Selasa, 12 November 2019

Kompassindo

Eti Suryahati : Penanganan Sampah Jadi Tanggung Jawab Kita Bersama


DEPOK-KOMPASSINDO
Permasalahan sampah memang permasalahan kota-kota besar. Tak terkecuali kota Depok, dengan kepadatan penduduk yang ada, dan sebagai penyanggah ibu kota, sampah menjadi PR (pekerjaan rumah) yang tidak ringan.
“Permasalahan sampah adalah tanggung jawab kita bersama,” ungkap Ety Suryahati, Kadis LHK (Lingkungan Hidup dan Kebersihan), dalam acara Ngopi Bareng Sekber, senin (11/11/19), di kantor Sekber.
Ety yang didampingi olek Sekdis LHK – H. Ridwan, Iyay Gumilar – Kabid Kebersihan, dan Ardan – Kepala UPT TPA Cipayung dalam paparannya menjelaskan, sesuai dengan UU 18-2018, dan juga peraturan daerah bahwa permasalahan sampah memang menjadi tanggung jawab bersama.
Karena menurut Ety, setiap orang minimal menghasilkan sampah 0,5-0,6. Jadi hal ini menjadi permasalahan bersama.
“Jadi penanggulangannya tidak hanya di hilir (TPA), tetapi juga di Hulu (sejak sampah itu di produksi,” kata Ety lagi.
Lebih jauh Ety memaparkan, pengelolaan sampah itu harus bersama. Dari mulai pemerintah, masyarakat, dan swasta. Sedangkan LHK dan dinas terkait sudah mengupayakan semaksimal mungkin dengan memberikan penyuluhan ke lingkungan, menyediakan 30 UPS (Unit Pengelolaan Sampah) di beberapa wilayah, 400 bank sampah, serta himbauan kepada relawan untuk peduli sampah bersama-sama.
“Dengan 2000 petugas yang ada, itu pun terbagi sesuai fungsi dan tanggungjawabnya, LHK memang terus mengupayakan bagaimana sampah diselesaikan dari hulu terlebih dahulu,” kata Ety lagi.
Pemilahan sampah yang organik dan non organik, juga menjadi salah satu penanganan yang dilakukan pemerintah Depok.
“Alhamdulillah sekitar 20 persen penanganan sampah dari mulai rumah sudah tertangani. Menurut catatan kami daerah Tanah Baru menjadi percontohan bagaimana sampah dari mulai rumah hingga TPA tertangani dengan baik,” jelas Ety.
Acara yang dibuka oleh Panitia Tetap (pantap) – Tony Yusep, dan dimoderatori oleh Putra Gara itu terbagi dua sesi tanya jawab. Inti dari diskusi tersebut, bagaimana penanggulangan masalah sampah dapat teratasi.
Penjelasan Ety juga dilengkapi oleh sekdis, kabid dan KaUPT terkait menjalankan program pemerintah Depok yang bersih dan nyaman. ( RS )

Kompassindo

Ratusan Hektar TBM Tak Terpelihara,Dirut PTPN-4 Diminta Tindak Rekanan Dan Pimpinan Di Unit Tinjoan



Simalungun,Sumut-KOMPASSINDO

Didalam budidaya kelapa sawit, istilah TBM (Tanaman Belum Menghasilkan),merujuk pada tanaman kelapa sawit berumur muda yang belum mampu menghasilkan TBS.
Tahap perawatan terhadap TBM merupakan kelanjutan dari tahap pembukaan lahan dan penanaman bibit kelapa sawit. Usaha yang dilakukan dalam merawat kelapa sawit pada masa TBM berpengaruh besar terhadap keberhasilan produksi kedepan nya.
Hal ini mengingat pohon sawit di rentang usia tersebut masih memiliki kondisi yang belum stabil,sangat besar kemungkinan tanaman yang dipelihara diserang oleh hama atau penyakit,bahkan yang lebih buruk kelapa sawit tersebut  tidak produktif.
Seperti halnya yang terjadi di PTPN 4 kebun unit Tinjoan  tampak perawatan kelapa sawit tidak dilakukan ‘Kastrasi’, bahkan banyak juga tidak dilakukan Chemis oleh pihak Vendor.

Ratusan hektar tanaman belum menghasilkan (TBM) tidak dilakukan ‘Kastrasi’ yakni, “Pemotongan bunga kelapa sawit yang masih muda pada tahap pembungaan awal untuk Pertumbuhan bunga pada masa permulaan ini tidak layak dipertahankan karena perkembangannya belum sempurna sehingga tidak menguntungkan.
Pemotongan ditujukan pada tanaman berusia 14-20 tahun dan dilakukan selama 10-12 bulan dengan pergiliran sebulan sekali. Kastrasi dimulai jika 25 persen dari tanaman budidaya sudah mulai berbung,karena tujuan dari diberlakukannya kastrasi pada kelapa sawit antara lain merangsang pertumbuhan tanaman, menghemat air dan hara, menyeragamkan perkembangan buah, serta menghasilkan tandan yang sempurna.
Disamping kastrasi juga dapat mempertahankan kebersihan tanaman sehingga dapat terhindar dari serangan hama dan penyakit. Proses kastrasi dikerjakan dengan memotong bunga yang baru tumbuh ketiak pelepah daun kelapa sawit.
Namun sayang nya, perawatan TBM di PTPN 4 kebun unit Tinjoan tidak dilakukan pengerjaan ‘Kastrasi dan Chemis’ sebagai mana mestinya, sehingga TBM terkesan diterlantarkan.
Salah seorang karyawan pemanen ketika dimintai komentarnya Jum'at (08/11/2019) mengatakan, bahwa itu pekerjaan pihak Vendor (rekanan/red) bang, lagian kalau untuk Afdeling ini hanya dilokasi jalan umum saja yang dilakukan perawatan secara benar, kalau di PTPN 4 istilah keren nya ‘Cuci Muka’ bang. Ucap nya.
Seperti dijelaskan salah seorang kariawa Unit Tinjoan,"abang lihat saja blok yang didalam bang, mungkin lebih parah dari ini ada, kami juga tidak tau kenapa bisa seperti ini masalah perawatan TBM dan TM,kalaupun ada pekerja BHL yang ngerjakan pemeliharaan,gajinya murah banget bang cuman 30 ribu satu hari,jelasnya nya, sembari mengatakan saya jangan di foto ya bg,nanti dikirain saya yang kasi info.
Ir AS Siregar ahli tanaman sawit Mengatakan,Tanaman kelapa sawit sudah mulai berbunga yakni ketika berumur 14 bulan, namun juga tergantung saat proses pertumbuhannya : tingkat kesuburan tanah, pemupukan, kualitas bibit,pada saat itu bunga-bunga tanaman sawit tersebut masih belum sempurna membentuk buah hingga tanaman mencapai umur sekitar 23 bulan. Sebelum itu, buah yang dihasilkannya tidak ekonomis untuk diolah. Karena itulah maka semua bunga maupun buah yang dihasilkan hingga mencapai umur 23 bulan ini perlu dibuang atau dikastrasi.

Kastrasi membuang semua produk generatif dari tanaman sawit, yaitu mulai dari bunga jantan, bunga betina hingga seluruh buah yang berguna untuk mendukung pertumbuhan vegetatif kelapa sawit,kastrasi terakhir dilakukan 6 bulan sebelum buah dipanen.

Kastrasi mulai di hentikan 6 bulan sebelum tanaman memasuki masa panen,jika pada usia tanaman 24 bulan tanaman sudah panen, di usia 12 bulan tanaman mulai dilakukan Kastrasi & memasuki usia 18 bulan Kastrasi sudah di hentikan.

Tujuan kastrasi diperkubunan kelapa sawit adalah:
·         Mengalihkan nutrisi untuk produksi buah yang belum bernilai ekonomis agar terserap pada pertumbuhan vegetatif. Sehingga pada saat tanaman sudah menghasilkan, fisik tanaman sudah kokoh dan kuat.
·         Pohon-pohon sawit yang telah dikastrasi biasanya lebih kuat dan seragam dalam bentuk pertumbuhannya.
·         Buah yang dihasilkan tanaman menjadi lebih besar, berbobot dan seragam beratnya.
·         Menjaga sanitasi tanaman, sehingga tanaman menjadi lebih bersih, dengan demikian bisa menghambat atau mengurangi kemungkinan perkembangan hama dan penyakit seperti : Tirathaba, Marasmius, tikus dan sebagainya.
·         Memaksimalkan fase vegetatif pada tanaman sehingga, tanaman menjadi kokoh pada fase Generatif.
·         Mencegah terserangnya Hama Penyakit pada tanaman
·         Biasanya hama yang menyerang buah adalah Ulat Terataba
Kastrasi sebaiknya dilakukan jika lebih dari 50% pohon kelapa sawit telah mengeluarkan bunga jantan dan bunga betina,yakni ketika tanaman kelapa sawit mulai memasuki usia antara 14 hingga 20 bulan sejak mulai di tanam.

"Kastrasi dilaksanakan setiap 2 (dua) bulan sekali hingga tanaman sawit mencapai umur 23 bulan, sebab jika terlambat maka ada bunga betina yang akan menjadi buah sehingga pupuk yang diberikan akan digunakan oleh tanaman pada buah, padahal buah yang dihasilkan masih belum produktif dan belum layak untuk dijual.
Pelaksanaan nya.jelanya.

"Melihat lokasi TBM yang seperti ini saya menduga suda tidak dilakukan pemeliharaan selama kurang lebih 6 bulan,pejabat PTPN-4 yang ada di unit Tinjoan Asisten,Aska dan Manejer tidak bekerja sebagai mana SOP,mereka hanya memikirkan bagian dari Rekanan setiap bulanya,Siwi Peni Selaku Dirut PTPN-4 dinilai gagal menerapkan yang baik,harusnya Buk Dirut menindak rekanan maupun pimpinan yang ada di Unit Tinjoan,walau Cemis dan Kastrasi di kerjakan oleh Rekanan,namun pihak unit selaku pemilik anggaran bertugas sebagai pengawas,jadi antara Rekanan dan Pimpinan di Unit,satuan kerja yang tidak bisa dipisahkan,bilah rekanan salah mengerjakan pemeliharaan maka pejabat diunit itu juga salah.jelas Ir AB mantan Asisten PTPN-4.

Raja S Purba,Manejer Unit Tinjoan belum dapat di temui dikantornya,infomasi dari satpam pada ( 08/11/2019),Manejer tidak berada di tempat.(R-Tim).


Senin, 11 November 2019

Kompassindo

PDAM Tirta Asasta Depok Gelar Sosialisasi Pencegahan Tipikor dan Pungli


DEPOK-KOMPASSINDO
Bertempat di Aula Kantor Pusat PDAM Tirta Asasta Kota Depok, kegiatan sosialisasi diikuti oleh para pemangku jabatan di lingkungan PDAM yakni para Senior Manager, Manager, Supervisor dan Asisten Supervisor serta Direksi PDAM Tirta Asasta Kota Depok.
Sosialisasi ini digagas mengingat korupsi merupakan penyakit yang tak kunjung sembuh dengan hanya menggunakan obat lama yaitu penindakan. Dibutuhkan obat baru berupa cara pandang baru menilai keberhasilan para penegak hukum.
Dalam acara sosialisasi hadir sebagai narasumber, Emil Winarto S.H M.H selaku Panit 1 Subdit V/Korupsi Dit Reskrimsus Polda Metro Jaya dalam kegiatan yang dilaksanakan cukup dinamis tersebut.
Sebagai salah satu lembaga pelayan masyarakat yang turut serta aktif dalam memerangi Tindak Pidana Korupsi, PDAM Tirta Asasta Kota Depok turut menyerukan perang melawan Korupsi.
Upaya tersebut salah satunya diwujudkan dengan menyelenggarakan Sosialisasi Pencegahan Tindak Pidana Korupsi dan Pungutan Liar, Senin (28/10).
Menurut Imas Dya Pitaloka selaku manager Pemasaran PDAM Tirta Asasta Depok dengan dibuat acara Sosialisasi ini, mengingat korupsi merupakan penyakit yang tak kunjung sembuh dengan hanya menggunakan obat lama yaitu penindakan. Dibutuhkan obat baru berupa cara pandang baru menilai keberhasilan para penegak hukum.
Ditambahkan beliau melalui sosialisasi dan pelatihan ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat dalam memerangi korupsi serta meningkatkan kesadaran dalam melakukan tanggung jawab sebagai pelayan masyarakat, dan banyak tindakan-tindakan represif atau yang bersifat pencegahan banyak dilakukan saat ini oleh para penegak hukum. ungkap Imas Dyah Pitaloka. (Radot. S)