KOMPASS INDONESIA

KOMPASS INDONESIA
Berdiri sejak Tahun 1998 , SIUPP No.782/SK/MENPEN/SIUPP/1998 .Oleh Ir.Suryanto.

Minggu, 10 November 2019

Kompassindo

Ikan Larangan Demi Menjaga Ekosistem Alam


LUBUK PANDAN ,Padang Pariaman-KOMPASSINDO
Wakil Bupati Padang Pariaman Suatri Bus melepas peserta penjalo ikan larangan di Nagari lubuk pandan yang di dampingi Babinsa Serda Ramli dan Babinkantibmas Brigadir M Sawir Guci.

Senin, 11 November 2019
J 08:00:56 WIB.

Mengitari daerah Kabupaten Padang Pariaman yang ternama dengan penamaan Gulai Kepalo Lauak, pelancong akan dimanjakan dengan pemandangan menakjubkan. Terlebih menyantap Gulai Kapalo Lauak yang terkenal dari padang Pariaman.

Mari kita lihat jauh kewilayah pelosok Kabupaten.
Singgahilah Mesjid Raya Lubuk Pandan yang terletak di Kecamatan 2X11 enam lingkung, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, tepatnya di samping Jembatan Jalan Raya Padang Bukit tinggih di sana akan kelihatan ikan larangan menungguh uluran tangan pelancong.

Disebut ikan larangan, karena konon ceritanya siapa yang memakan ikan tersebut sebelum di buka larangan akan terkena musibah, entah itu sakit aneh, perut menjadi buncit, ataupun musibah lainnya.

Tapi sebenarnya ikan ini bisa dimakan, dengan syarat saat hari-hari tertentu saja seperti pada hari acara adat ataupun hari besar keagamaan.

Menghimpun cerita tersebut, Babinsa Serda Ramli dàn Babinkantibmas Berigadir M Sawir Guci, hadir di wilayah
Dekat lokasi keberadaan ikan larangan, salah seorang pemuka adat bernama Saiful Anwar selaku ketua panitiah pelaksana menjalo ikan karena tampangnya punya kelebihan yang berbedah dengan masyarakat yang lainnya, membenarkan cerita Ikan Larangan tersebut.

Diceritakan Saiful Anwar, dulu di sungai tempat ikan larangan itu berada, ada seseorang yang sakti memberi ilmu teluh kepada bibit-bibit ikan yang ada di sini. Hal itu dilakukannya agar tidak ada yang berani mencurinya.

"Kabarnya, selalu ada kejadian aneh yang kerap kali terjadi di sana seperti sakit setelah memakan ikan larangan atau ada yang kesurupan karena mengambil ikan larangan dan membuang sampah di sungai tersebut," Saiful Anwar katanya.

Jadi, jelas Saiful Anwar lebih lanjut, ikan tersebut tak boleh diambil. Ada batas-batas di mana ikan itu boleh diambil. Kalau sudah lewat dari area larangan, ikan itu baru boleh di ambil.

"Namun, sebenarnya ada orang mangatakan ini hanya mitos, tapi benar adanya yang sakit setelah makan ikan sebelum di buka batas larangan. alasan utama adalah untuk menjaga supaya ekosistem yang ada di dalam sungai tersebut selalu lestari.
Buktinya, dengan ada larangan tersebut, sungai tempat ikan larangan itu jernih tanpa ada sampah yang mengotori permukaan sungai tersebut. Tentunya ikan-ikan di dalam sana berjumlah banyak dan besar-besar," ungkapnya.

"Pihak pemangku adat dan aparat nagari biasanya melaksanakan ritual membuka larangan bersama-sama masyarakat di mana hasil yang diperoleh digunakan untuk kepentingan masyarakat dan untuk Mesjid,"

Berdasarkan sumber lainnya, diketahui juga Objek Wisata ikan larangan ini banyak dimanfaatkan oleh pelancong melakukan terapi ikan atau sekadar memberi makan untuk ikan.

Sampai saat ini orang-orang sekitar percaya jika komitmen untuk tidak menangkap ikan itu dilanggar, mereka akan tertimpa musibah. Kecuali di hari-hari yang telah ditentukan.

Pada saat ini, selama masih bulan Maulid Nabi Muhammad SAW, ikan larangan boleh ditangkap dan dikosumsi masyarakat.
Kalau Maulid Nabi sudah selesai, pelarangan dilakukan lagi. Begitulah masyarakat menjaga kelestarian alam khususnya di Nagari Lubuk Pandan.

Di wilayah lain, pelarangan juga ada dan ceritanya juga bertujuan dalam pemeliharaan ciptaan yang maha kuasa. ( Bendi )

Subscribe to this Blog via Email :